Kamis, 12 Oktober 2017

Tugas Etika Profesi Akuntansi

III. ETHICAL GOVERNANCE

1. Governance System
Governance System merupakan sebuah tata kekuasaan yang terdapat di dalam perusahaan. Adapun unsur-unsur yang membentuk Governance System yang tidak dapat terpisahkan yaitu :
  • Commitment on Governance
Adalah sebuah komitmen untuk menjalankan perusahaan yang dalam hal ini adalah bidang perbankan berdasarkan prinsip kehati-hatian berdasarkan peraturan perundang-perundangan yang berlaku.
  • Governance Structure
Adalah struktur kekuasaan berikut persyaratan pejabat yang ada di bak sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Governance Mechanism
Adalah pengaturan mengenai tugas, wewenang dan tanggung jawab unit dan pejabat bank dalam menjalankan bisnis dan operasional perbankan.
  • Governance Outcomes
Adalah hasil dari pekerjaan baik dari aspek hasil kinerja maupun acra-cara/praktek-praktek yang digunakan untuk mencapai hasil pekerjaan
2. Budaya Etika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya mempunyai arti pikiran; akal budi: adat istiadat. Budaya adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pengalaman bersama yang dialami oleh orang-orang dalam organisasi tertentu dari lingkungan sosial mereka. Sedangkan Etika mempunyai arti sebagai ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta tetang hal dan kewajuban moral.
3. Mengembangkan Struktur Etika Korporasi
Semangat untuk mewujudkan Good Corporate Governance memang telah dimulai di Indonesia, baik di kalangan akademisi maupun praktisi baik di sektor swasta maupun pemerintah. Berbagai perangkat pendukung terbentuknya suatu organisasi yang memiliki tata kelola yang baik sudah di stimulasi oleh Pemerintah melalui UU Perseroan, UU Perbankan, UU Pasar Modal, Standar Akuntansi, Komite Pemantau Persaingan Usaha, Komite Corporate Governance, dan sebagainya yang pada prinsipnya adalah membuat suatu aturan agar tujuan perusahaan dapat dicapai melalui suatu mekanisme tata kelola secara baik oleh jajaran dewan komisaris, dewan direksi dan tim manajemennya.
4. Kode Perilaku Korporasi
Pengelolaan perusahaan tidak dapat dilepaskan dari aturan-aturan main yang selalu harus diterima dalam pergaulan sosial, baik aturan hukum maupun aturan mora atau etika. Perilaku perusahaan secara nyata tercermin pada perilaku pelaku bisnisnya. Dalam mengatur perilaku inilah, perusahaan perlu menyatakan secara tertulis nilai-nilai etika yang menjadi kebijakan dan standar perilaku yang diharapkan atau bahkan diwajibkan bagi setiap pelaku bisnisnya. Pernyataan dan pengkomunikasian nilai-nilai tersebut dituangkan dalam Kode Perilaku Korporasi.
5. Evaluasi Terhadap Kode Perilaku Korporasi
Dalam setiap Kode Perilaku Korporasi, adanya evaluasi terhadap kode perilaku korporasi juga sangat diperlukan, agar segala kegiatan yang telah dilakukan apakah sudah dijalankan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. Berikut ini langkah yang harus dilakukan dalam evaluasi terhadap kode perilaku korporasi, yaitu :
  • Pelaporan pelanggaran Kode Perilaku Korporasi
  • Sanksi atas pelanggaran Kode Perilaku Korporasi
Disamping itu pengelola Good Corporate Governance bekerjasama dengan pengelola Audit Internal untuk memantau pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan yang diimplementasikan diseluruh jajaran Perusahaan atau dengan sistim Self Assesment. 

SUMBER :
https://www.google.co.id/amp/ikkyfadillah.tumblr.com/post/100573113094/ethical-governance/amp

Tugas Etika Profesi Akuntansi

II. PERILAKU ETIKA DALAM BISNIS

1. LINGKUNGAN BISNIS YANG MEMPENGARUHI ETIKA
Etika bisnis merupakan suatu rangkaian prinsip/aturan/norma yang harus diikuti apabila menjalankan bisnis. Etika sebagai norma dalam suatu kelompok bisnis akan dapat menjadi pengingat anggota bisnis satu dengan lainnya mengenai suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang selalu harus dipatuhi dan dilaksanakan. Etika didalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan bisnis yang terkait tersebut.
Etika bisnis terkait dengan masalah penilaian terhadap kegiatan dan perilaku bisnis yang mengacu pada kebenaran atau kejujuran berusaha (bisnis). Kebenaran disini yang dimaksud adalah etika standar yang secara umum dapat diterima dan diakui prinsip-prinsipnya baik oleh masyarakat, perusahaan dan individu. Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
untuk terciptanya etika didalam bisnis yang sesuai dengan budi pekerti luhur, ada beberapa yang perlu diperhatikan, antara lain :
  • Pengendalian diri
  • Pengembangan tenggung jawab sosial
  • Mempertahankan jati diri
  • Menciptakan persaingan yang sehat
  • Menerapkan konsep pembangunan yang berkelanjutan.
Adapun hal-hal yang perlu dihindari agar terciptanya etika didalam bisnis yang baik yaitu menghindari sikap 5K 
  • Katabelece
  • Kongkalikong
  • Koneksi
  • Kolusi, dan
  • Komisi
2. KESALING TERGANTUNGAN ANTARA BISNIS DAN MASYARAKAT
Perusahaan yang merupakan suatu lingkungan bisnis juga sebuah organisasi yang memiliki struktur yag cukup jelas dalam pengelolaannya. ada banyak interaksi antar pribadi maupun institusi yang terlibat di dalamnya. Dengan begitu kecenderungan untuk terjadinya konflik dan terbukanya penyelewengan sangat mungkin terjadi. baik di dalam tataran manajemen ataupun personal dalam setiap tim maupun hubungan perusahaan dengan lingkungan sekitar. untuk itu etika ternyata diperlukan sebagai kontrol akan kebijakan, demi kepentingan perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu kewajiban perusahaan adalah mengejar berbagai sasaran jangka panjang yang baik bagi masyarakat.
Berikut adalah beberapa hubungan kesaling tergantungan antara bisnis dengan masyarakat.
  • Hubungan antara bisnis dengan langganan / konsumen
Hubungan antara bisnis dengan langgananya adalah hubungan yang paling banyak dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulanya secara baik. Adapun pergaulannya dengan langganan ini dapat disebut disini misalnya saja :
Kemasan yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membedakan atau mengadakan perbandingan harga terhadap produknya.
Bungkus atau kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi didalamnya,
Pemberian servis dan terutama garansi adalah merupakan tindakan yang sangat etis bagi suatu bisnis.
  • Hubungan dengan karyawan
Manajer yang pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya sering kali harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yakni : Penarikan (recruitment), Latihan (training), Promosi atau kenaikan pangkat, Tranfer, demosi (penurunan pangkat) maupun lay-off atau pemecatan / PHK (pemutusan hubungan kerja).
  •  Hubungan antar bisnis
Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahan yang lain. Hal ini bisa terjadi hubungan antara perusahaan dengan para pesaing, grosir, pengecer, agen tunggal maupun distributor.
  •  Hubungan dengan Investor
Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas dan terutama yang akan atau telah “go publik” harus menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada para insvestor atau calon investornya. prospek perusahan yang go public tersebut. Jangan sampai terjadi adanya manipulasi atau penipuan terhadap informasi terhadap hal ini.
  •  Hubungan dengan Lembaga-Lembaga Keuangan
Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan terutama pajak pada umumnya merupakan hubungan pergaulan yang bersifat finansial.
3. KEPEDULIAN PELAKU BISNIS TERHADAP ETIKA
Etika bisnis dalam suatu perusahaan mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu bisnis yang kokoh dan kuat dan mempunyai daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan untuk menciptakan nilai yang tinggi. Perilaku etis dalam kegiatan berbisnis adalah sesuatu yang penting demi kelangsungan hidup bisnis itu sendiri. Bisnis yang tidak etis akan merugikan bisnis itu sendiri terutama jika dilihat dari perspektif jangka panjang. Bisnis yang baik bukan saja bisnis yang menguntungkan, tetapi bisnis yang baik adalah selain bisnis tersebut menguntungkan juga bisnis yang baik secara moral.
Tolak ukur dalam etika bisnis adalah standar moral. Seorang pengusaha yang beretika selalu mempertimbangkan standar moral dalam mengambil keputusan, apakah keputusan ini dinilai baik atau buruk oleh masyarakat, apakah keputusan ini berdampak baik atau buruk bagi orang lain, atau apakah keputusan ini melanggar hukum.
Dalam menciptakan etika bisnis perlu diperhatikan beberapa hal, antara lain  pengendalian diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi, pengembangan tanggung jawab sosial, mempertahankan jati diri, menciptakan persaingan yang sehat, menerapkan konsep pembangunan yang berkelanjutan, mampu menyatakan hal yang benar, Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah, Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama dan lain sebagainya.
4. PERKEMBANGAN DALAM ETIKA BISNIS
Kegiatan perdagangan atau bisnis tidak pernah luput dari sorotan etika. Perhatian etika untuk bisnis dapat dikatakan seumur dengan bisnis itu sendiri. Perbuatan menipu dalam bisnis , mengurangi timbangan atau takaran, berbohong merupakan contoh-contoh kongkrit adanya hubungan antara etika dan bisnis.
5. ETIKA BISNIS DALAM AKUNTANSI
Kegiatan perdagangan atau bisnis tidak pernah luput dari sorotan etika. Perhatian etika untuk bisnis dapat dikatakan seumur dengan bisnis itu sendiri. Perbuatan menipu dalam bisnis , mengurangi timbangan atau takaran, berbohong merupakan contoh-contoh kongkrit adanya hubungan antara etika dan bisnis

SUMBER :
Agoes, Sukrisno dan I Cenik Ardana, 2013. Etika Bisnis dan Profesi : Tantangan
Membangun Manusia Seutuhnya, Jakarta : Salemba Empat.
Bertens, K, 2000. Pengantar Etika Bisnis, Edisi Keenam, Yogyakarta: Kanisius

Tugas Etika Profesi Akuntansi

I.    Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

1. Pengertian Etika
       Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika berkaitan erat dengan perkataan moral yang berarti juga dengan adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal hal tindakan yang buruk. Etika dan moral memiliki pengertianyang hampir sama, namun dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Menurut Brooks (2007), Etika adalah cabang dari filsafat yang menyelidiki penilaian normatif tentang apakah perilaku ini benar atau apa yang seharusnya dilakukan. Kebutuhan akan etika muncul dari keinginan untuk menghindari permasalahan permasalahan di dunia nyata.
        Bertens (2000) menyebutkan bahwa teori etika dapat membantu proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan moral dan justifikasi terhadap keputusan tersebut.
Menurut Duska (2003), teori etika dikembangkan dalam tiga bagian yaitu :
A. Utlitarian Theory
Teori ini membahs mengenai optimalisasi pengambilan keputusan individu untuk memaksimumkan manfaat dan meminimalkan dampak negatif. Terdapat dua jenis utilitarisme, yaitu :

a. Act utilitarisme yaitu perbuatan yang bermanfaat untuk banyak orang

b. Rule utilitarisme yaitu aturan moral yang diterima oleh masyarakat luas

B. Deonotologi Theory
Teori etika ini membehas mengenai kewajiban individu untuk memberikan hak kepada orang lain, sehingga dasar untuk menilai baik atau buruk suatu hal harus didasarkan pada kewajiban bukan konsekuensi perbuatan

C. Virtue Theory
Teori ini menjelaskan disposisi watak seseorang yang memungkinkan untuk bertingkah laku baik secara moral. Ada dua jenis virtue theory, yaitu :

a. Pelaku bisnis individual, seperti : kejujuran, fairness, kepercayaan dan keuletan

b. Taraf perusahaan, seperti : kemarahan, loyalitas, kehormatan, rasa malu yang dimiliki oleh manajer dan karyawan

2. Prinsip-Prinsip Etika
Prinsip-prinsip Fundamental Etika IFAC :

A. Integritas.
Seorang akuntan profesional harus bertindak tegas dan jujur dalam semua hubungan bisnis dan profesionalnya.

B. Objektivitas.
Seorang akuntan profesional seharusnya tidak boleh   membiarkan   terjadinya bias, konflik kepentingan, atau dibawah penguruh orang lain sehinggamengesampingkan pertimbangan bisnis dan profesional.

C. Kompetensi profesional dan kehati-hatian.
Seorang akuntan profesionalmempunyai kewajiban untuk memelihara pengetahuan dan keterampilan profesional secara berkelanjutan pada tingkat yang dipelukan untuk menjaminseorang klien atau atasan menerima jasa profesional yang kompeten yangdidasarkan atas perkembangan praktik, legislasi, dan teknik terkini. Seorangakntan profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar profesional haus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar profesionaldan teknik yang berlaku dalam memberikan jasa profesional.

D. Kerahasiaan. 
Seorang akuntan profesional harus menghormati kerhasiaaninformasi yang diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional dan bisnisserta tidak boleh mengungapkan informasi apa pun kepada pihak ketiga tanpa izinyng enar dan spesifik, kecuali terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak profesional untuk mengungkapkannya.

E. Perilaku Profesional.
Seorang akuntan profesional harus patuh pada hukum dan perundang-undangan yang relevan dan harus menghindari tindakan yang dapatmendiskreditkan profesi.

3. Basis Teori Etika
Menurut buku yang berjudul “Hukum dan Etika Bisnis” karangan Dr. H. Budi Untung, S.H., M.M, etika dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :
A. Etika Deskriptif
Etika deskriptif yaitu etika di mana objek yang dinilai adalah sikap dan perilaku manusia dalam mengejar tujuan hidupnya sebagaimana adanya. Nilai dan pola perilaku manusia sebagaimana adanya ini tercemin pada situasi dan kondisi yang telah membudaya di masyarakat secara turun-temurun.

B. Etika Normatif
Etika normatif yaitu sikap dan perilaku manusia atau massyarakat sesuai dengan norma dan moralitas yang ideal. Etika ini secara umum dinilai memenuhi tuntutan dan perkembangan dinamika serta kondisi masyarakat. Adanya tuntutan yang menjadi avuan bagi masyarakat umum atau semua pihak dalam menjalankan kehidupannya.

C. Etika Deontologi
Etika deontologi yaitu etika yang dilaksanakan dengan dorongan oleh kewajiban untuk berbuat baik terhadap orang atau pihak lain dari pelaku kehidupan. Bukan hanya dilihat dari akibat dan tujuan yang ditimbulakan oleh sesuatu kegiatan atau aktivitas, tetapi dari sesuatu aktivitas yang dilaksanakan karena ingin berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau pihak lain.

D. Etika Teleologi
Etika Teleologi adalah etika yang diukur dari apa tujuan yang dicapai oleh para pelaku kegiatan. Aktivitas akan dinilai baik jika bertujuan baik. Artinya sesuatu yang dicapai adalah sesuatu yang baik dan mempunyai akibat yang baik. Baik ditinjau dari kepentingan pihak yang terkait, maupun dilihat dari kepentingan semua pihak. Dalam etika ini dikelompollan menjadi dua macam yaitu :
a.    Egoisme, yaitu etika yang baik menurut pelaku saja, sedangkan bagi yang lain mungkin tidak baik.

b.    Utilitarianisme, adalah etika yang baik bagi semua pihak, artinya semua pihak baik yang terkait langsung maupun tidak langsung akan menerima pengaruh yang baik.

4. Egoism
Kata "egoisme" merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin yakni ego, yang berasal dari kata Yunani kuno yang masih digunakan dalam bahasa Yunani modern ego yang berarti "diri" atau "Saya", dan isme, digunakan untuk menunjukkan sistem kepercayaannya. Dengan demikian, istilah ini secara etimologis berhubungan sangat erat dengan egoisme filosofis.
Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah "egois". Lawan dari egoisme adalah altruisme.



Sumber :
Agoes Sukrisno dan Ardana, I Centik. 2011. Etika Bisnis dan Profesi-Tantangan Membangun Manusia Seutuhnya. Jakarta : Salemba Empat
Bertens, 2000. Etika. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Brooks, Leonard J. 2007. Etika Bisnis & Profesi, Edisi 5. Jakarta : Salemba Empat
Budi,Untung.2012. Hukum Dan Etika Bisnis. Yogyakarta: CV Andi Offse
Duska, Ronald f., and Brenda Shay Duska. 2003.Accounting Ethics. Blackwell Publishing Ltd, United Kingdom.
IFAC Ethics Committee

Rabu, 28 Juni 2017

Tugas 4 Bahasa Inggris Bisnis 2

Adjective and Adverb

1.      Definition
a.       Adjectives
Adjectives are words that describe or modify other words, making your writing and speaking much more specific.
Kinds of Adjective :
1)      Original Adjective
2)      Past Participle
3)      Article
4)      Possessive Adjective
5)      Demonstrative Adjective
6)      Interrogative Adjective

b.      Adverbs
A word or phrase that modifies or qualifies an adjective, verb, or other adverb or a word group, expressing a relation of place, time, manner, degree, etc.
Kinds of Adverb :
1) Adverb of Manner
2) Adverb of Time
3) Adverb of Place
4) Adverb of Frequency


2.      Example
a.       Adjectives
·         1 Adjective
1)      Tono is a genius Child
2)      Riki is a kind man
3)      She has curly hair
4)      Andi want to buy a black hat
5)      The red jacket is expensive

·         2 Adjectives
1)      What a beautiful red shirt
2)      Rido is a tall white man
3)      My neighbor just bougt a beautiful white cat
4)      Aril just got a big expensive piano
5)      She has a lovely pink bag

·         More than 2 adjectives
1)      Armin just bought a big old wooden wardrobe
2)      Tono just made a small yellow bread-like cake
3)      I have a tall young japanese co-worker
4)      Doni can make a long sharp metal sword
5)      Tari broke a beautiful old white watch
b.    Adverbs
·         Adverb of Frequency
1)      Dimas rarely go to gym
2)      I always have breakfast everyday
3)      Sometimes Dani give me a bread for lunch
4)      Ari take a bath once a day
5)      I often play video game at home

·         Adverb of Manner
1)      I walked quietly because my nephew were asleep
2)      She sings the song beautifully
3)      We finished the test quickly
4)      I can predict the enemy movement accurately in video games
5)      Sabri drives the car carefully

·         Adverb of Time
1)      I played dota yesterday
2)      My family will come tomorrow
3)      I’ll be there at 8 A.M.
4)      She order ayam penyet for lunch today
5)      I already finished my work

·         Adverb of Place
1)      Joko is playing soccer there
2)      I’m on a flight to Japan
3)      Alfi is lived away from his family
4)      I dropped my wallet somewhere
5)      I stayed in Surabaya for a while

Rabu, 24 Mei 2017

Tugas 3 Bahasa Inggris Bisnis 2

GREEN ENVIRONMENT

Unpredictable climate change has an impact on the difficulty of humans making natural development estimates. Likewise, the greening movement as an effort to anticipate global warming must be earthed in education.

Significant impacts are felt along with not easy to predict natural upheaval. Amidst climate anomalies (weather), tree planting movements are needed. If we do not plant trees, global warming is getting worse. That way the earth gets hotter and we lack oxygen.

Greening as a result of the agreement maintains an ecological balance as a form of caring for and maintaining an increasingly endangered ecosystem. If we do not take care of the ecosystem, natural disasters will occur. Need a joint movement program in the community environment in planting and environmental management in an integrated manner. If I have a large land, I will plant a thousand trees. Perhaps as it is about my dreams, the tree plays an important role for human life on this earth.

Obedience to environmental arrangement, protection of artificial resources, conservation of biological natural resources and their ecosystems, cultural heritage, diversity by always alerting and anticipating climate change that is as absurd as ever. If I became Governor, I would make a green environment movement. I want in every RW community have the awareness of small things such as not littering, or for example on every Friday is held clean environment in every RWnya. With so long the environment becomes beautiful and free from diseases such as dengue mosquitoes.

One man movements a tree either in pots or planted in the environment, according to environmental conditions. The action of planting, maintenance and care is the responsibility of the community. This is where the loving movement of nature as a form of awareness that damaging nature (tree felling) can be fatal. if people had cutting trees indiscriminately, there would be no landslides. If it happens we ourselves who will lose money. Therefore we must be aware that if we are not to take care of who else. Society would have avoid the disease if had care for environment

Conditional Type 1 :
·         If we do not plant trees, global warming is getting worse
·         If we do not take care of the ecosystem, natural disasters will occur

Conditional Type 2 :
·         If I have a large land, I will plant a thousand trees
·         If I became Governor, I would make a green environment movement

Conditional Type 3 :
·         If people had cutting trees indiscriminately, there would be no landslides
·         Society would have avoid the disease if had care for environment


Sabtu, 29 April 2017

Tugas 2 Bahasa inggris Bisnis 2

Modal Auxiliary

Modal Auxiliary adalah kata kerja yang berfungsi sebagai pembantu kata kerja utama. Contoh: I will Explain about modal auxiliary. "Will" adalah kata kerja bantu yang bertugas membantu kata kerja utamanya yaitu "Explain". Terdapat beberapa modal dalam modal auxiliary, yaitu :

1. Can dan Could

  • Fungsi Can dan Could
    • Can berfungsi untuk menyatakan Kemampuan (Ability) dan juga untuk melakukan meminta izin (Permission)
    • Could berfungsi untuk menyatakan kemampuan (Ability) dimasa lalu dan untuk permemintaan izin dimasa lalu atau dimasa yang akan datang.

  • Perbedaan Can dan Could
    • Can digunakan dalam pernyataan/kalimat dimasa yang akan datang.
    • Could bisa digunakan dalam pernyataan/kalimat dimasa lalu ataupun di masa yang akan datang

  • Contoh Can dan Could
    • Can :
      • I can win the tournament easily.
      • Can i borrow your equipment?
    • Could :
      • You could play better than me 3 years ago.
      • Could i use your laptop to play Dota?

2. May dan Might

  • Fungsi May dan Might
    • May berfungsi untuk untuk menyatakan possibility (kemungkinan) dimasa sekarang (present) dan masa depan (future) dan juga untuk meminta izin (permission) yang lebih formal daripada modal can.
    • Might berfungsi untuk menyatakan possibility (kemungkinan) dimasa sekarang (present) dan masa depan (future) dan jika "Might" ditambahkan dengan modal "have" dapat menyatakan possibility (kemungkinan) di masa lalu.

  • Perbedaan May dan Might
    • May digunakan untuk menyatakan kemungkinan yang akan terjadi
    • Might digunakan juga untuk menyatakan kemungkinan namun prosentase terjadinya lebih kecil dari "May".

  • Contoh May dan Might
    • May :
      • May i borrow your hat?
      • She may study hard and always attend the lecture.
    • Might :
      • He told Sonia that he might go to Japan next month.
      • Franco might miss the chance to start the war.

Must dan "Have to"

  • Fungsi Must dan "Have to"
    • Must digunakan untuk mengekspresikan suatu kewajiban atau kebutuhan dan jika ditambahkan dengan "not" menjadikannya sebuah larangan.
    • Have to  juga digunakan untuk mengekspresikan suatu kewajiban atau kebutuhan.

  • Perbedaan Must dan "Have to"
    • Must digunakan untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang dimaksud benar adanya dan logis dan juga dapat digunakan untuk menunjukkan kewajiban yang begitu kuat atau kewajiban yang diperlukan menurut diri sendiri dan orang di sekitar.
    • Have to digunakan untuk mengekspresikan kewajiban yang kuat karena ada campur tangan dari pihak luar yang membuat adanya kewajiban tersebut.

  • Contoh must dan "Have to"
    • Must :
      • I must attend the lecture tomorrow
    • Have to :
      • Sometimes you have to sacrifice something to get what you want.

Will dan Would

  • Fungsi Will dan would
    • Will digunakan untuk menyatakan kemauan (Willingness)
    • Would digunakan untuk menyatakan kemauan (Willingness) namun lebih sopan dari "Will" dan juga bisa mengungkapkan kemungkinan (Possibility).

  • Perbedaan Will dan Would
    • Will digunakan dalam pernyataan dimasa yang akan datang (future)
    • Would digunakan dalam pernyataan dimasa lalu (past) atau dimasa yang akan datang (future)

  • Contoh Will dan Would
    • Will :
      • I will fix my handphone tomorrow
    • Would:
      • I would be there soon.

Shall dan Should

  • Fungsi Shall dan Should
    • Shall berfungsi untuk menyatakan simple future seperti halnya will namun hanya digunakan pada first person (orang pertama) I dan We dan juga digunakan untuk menyatakan obligation (kewajiban) pada situasi formal.
    • Should berfungsi untuk memberi suggestion (saran) atau advice (nasehat) dan menyatakan suatu kewajiban.

  • Perbedaan Shall dan Should
    • Shall digunakan pada situasi yang formal
    • Should digunakan pada situasi yang tidak begitu formal

  • Contoh Shall dan Shoud
    • Shall :
      • You shall report your work to human resource division.
    • Should :
      • You should ask her to go on a date.
Sumber :
https://www.wordsmile.com/pengertian-contoh-kalimat-modal-auxiliary-verbs
http://inggrisonline.com/pengertian-contoh-dan-fungsi-modal-auxiliary-verbs/
http://www.ef.co.id/englishfirst/englishstudy/perbedaan-must-dan-have-to-dalam-bahasa-inggris.aspx